Sejarah Berdirinya Masjid Besar Pakualaman Kota Yogyakarta

199
BERBAGI
Sejarah Berdirinya Masjid Besar Pakualaman Kota Yogyakarta
10 (100%) 1 vote

Masjid Pakualaman Jogja
Masjid Pakualaman

Masjid Pakualaman adalah salah satu benda cagar budaya yang ada di yogyakarta dan di bangun oleh Paku Alam II pada abad XIX. Masjid Pakualaman ini berlokasi di Kauman Kecamatan Pakualam Kota Yogyakarta tepatnya di sebelah barat laut alun-alun Sewandanan yang berada di luar kompleks Puro.

Masjid dengan luas 144 m2 memiliki empat buah serambi dengan luas 238 m2 dan juga terdapat sebuah prasasti yang berada disebelah utara masjid yang menunjukkan tahunan Jawa 1767 (1839 M) serta terdapat juga prasasti lain disebelah selatan yang menunjukkan tahun Jawa (1855 M) yang sampai saat ini masih diperdebatkan awal tahun yang mana yang merupakan awal didirikannya masjid tersebut.

Baca Juga: Menelusuri Sejarah Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta

Masjid Pakualaman tidak bisa dilepaskan dari intruksi Kasultanan Kraton Yogyakarta Sri Paku Alam I (Putra Sri Sultan Hamengku Buwono I) kepada KRT Natadiningrat atu Sri Paku Alam II yang merupakan kerajaan Islam dalam perundingan Giyanti pada tahun 1755. Intruksi ini diberikan atas dasar Titah sesuai dengan perang Diponegoro sehingga masjid ini didirikan pada tahun 1831 oleh Sri Paduka Paku Alam II.

Pada saat Pangeran Natakusuma alias Paku Alam I meninggal dunia pada tahun 1829 kemudian digantikan oleh Sri Paku Alam II dan selanjutnya menjabat sebagai adipati merdeka di kadipaten Paku Alam dan Kadipaten Karang Kemuning.

masjid-pakualaman-jogja
Masjid Pakualaman

Kemudian pada tanggal 28 April 1931, penjajah Belanda mengadakan perjanjian terhadap Sri Paku Alam II mengenai wilayah kekuasaan yang menggantikan Sri Paku Alam I tentang tanah seluas 4000 cacah.

KPH Suryaningrat adalah seorang seniman ulung yang sangat terkenal. Setelah terjadinya perang Diponegoro, Paku Alam banyak seklai menghasilkan karya seni dan bahkan ia juga mengenalkan seni musik dan drama terbuka di kalangan kompleks Kraton dan masyarakat Yogyakarta.

Baca Juga: Sejarah Masjid Kotagede Yogyakarta

Selain mendirikan dan memimpin jamah di masjid Puro Paku Alam, GKP Paku Alam II juga menuliskan satra Serat Baratayudha dan Serat DewaRuci yang berisi tentang penjabaran dua kalimat syahadat dan sifat Allah yang dua puluh. Dalam proses pembangunan masjid Puro Paku Alam ditandai dengan adanya empat prasasti dimana dua prasasti bertulikan dalam huruf arab dan dua prasasti lainnya bertulisan dalam huruf jawa.

Link Lokasi Google Maps

BERBAGI