Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning Yogyakarta

183
BERBAGI
Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning Yogyakarta
10 (100%) 1 vote

masjid-jami-sulthoni-plosokuning
Masjid Sulthoni Plosokuning

Masjid Sulthoni Plosokuning ini tetak sekitar sembilan kilometer arah utara dari Kraton Yogyakarta tepatnya Jl. Plosokuning Raya No. 99, desa Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Masjid ini berdiri di atas lahan seluas 2.500 m2 yang merupakan tanah milik kesultanan Yogyakarta dan luas bangunan sekitar 288 m2. Pada saat pembangunan masjid ini mengalami perluasan lahan hingga saat ini menjadi 328 m2.

Masjid Pathok Negoro dibangun setelah berdirinya Masjid Agung Yogyakarta, sehingga bentuk Masjid Pathok Negoro tersebut memiliki kemiripan dengan Masjid Agung yang merupakan salah satu usaha legitimasi masjid milik Kesultana Yogyakarta. Kesamaan ini juga di ikuti beberapa komponen yang ada di dalamnya seperti mihrob, kentongan, dan beduk.

Masjid Pathok Negoro memiliki ciri dengan beratap tajuk dan 2 tumpang. Mahkota dari masjid ini juga memiliki kesamaa dengan Masjid Agung yakni sama-sama terbuat dari tanah liat dan atap terbuat dari sirap. Terjadinya perbedaan antara tumpang mejelaskan bahwa Masjid Pathok Negoro ini memiliki kedudukan yang lebih rendah dibandingkan dengan masjid Agung.

masjid-sulthoni-plosokuning
Masjid Sulthoni Plosokuning

Adapun yang menjadi ciri khas dari Masjid Pathok Negoro adalah terdapatnya kolam di sekeliling masjid yang dipenuhi dengan ikan dan juga terdapat pohon sawo kecil serta mimbar yang ada didalam masjid. Pada bagian gerbang pintu masuk dari Masjid Pathok Negoro ini terdapat beberapa undakan yang sengaja dibuat untuk menunjukkan beberapa hal seperti menunjukkan tiga elemen yakni Iman, Islam dan Ikhsan. Kemdian lima undakan ke-2 menunjukkan bahwa rukun Islam ada lima sedangkan enam undakan ke-3 bertujuan untuk menunjukkan bahwa rukun iman ada 6.

Dahulunya masjid ini tidak terurus namun berkat niat yang baik dari seorang Kyai Muthohar maka masjid ini dibangun kembali agar dapat di manfaatkan lebih baik. Masjid yang direnopasi pada tahun 1960 ini merupakan masjid peninggalan Sultan Hamengkubuwono I dan di bangun kembali pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Sebelum dilakukan pembangunan ulang, Kyai Muthohar terlebih dahulu meminta izin untuk Masjid Pathok Negoro Babadan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Dan akhirnya Sri Sultan mengizinkan kemudian dilakukan proses pembangunan masjid tersebut. Berikut ini adalah link lokasi google maps dari Masjid Pathok Negoro Babadan :

Link Lokasi Google Maps

 

BERBAGI